Senin, 20 Desember 2010

5 STRATEGI UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN


Tujuan adalah alat yang sangat bagus untuk motivasi. Tujuan adalah sumber inspirasi. Tapi jika Anda tidak menggunakannya dengan benar, tujuan Anda juga bisa menjadi sumber frustrasi. Tujuan adalah memberdayakan hanya jika mereka digunakan dengan benar. Sebaliknya, jika tidak membuat tujuan, Anda akan hidup tanpa arah. Terombang ambing entah berlabuh kemana. Jadi bagaimana Anda membuat tujuan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi Anda?
Berikut adalah strategi yang perlu Anda lakukan untuk mewujudkan tujuanAnda.
  1. Seimbangkan Tujuan Anda: Dalam hidup Anda, Anda akan memiliki tujuan pengembangan pribadi, tujuan keuangan pribadi dan tujuan-tujuan lainnya. Jangan abaikan satu pun dari mereka. Tidak apa-apa Anda menginginkan sesuatu, tapi jangan lupa untuk menyeimbangkan tujuan Anda dengan memperhatikan tujuan lain agar menjadi pribadi yang utuh. Semua tujuan ini penting bagi Anda. Semuanya harus jelas dan nyata bagi Anda.
  2. Buatlah rencana tindakan dari Tujuan Anda. Tujuan adalah bukan tindakan. Tujuan Anda adalah apa yang Anda perjuangkan. Rencanakan tindakan spesifik yang akan membawa Anda ke arah tujuan tersebut. Gunakan tujuan untuk memberikan kompas untuk tindakan tersebut. Ketika Anda merencanakan tindakan untuk hari ini, Anda dapat dengan mudah mengetahui apakah rencana Anda mengarah ke tujuan. Tindakan akan menjadi efektif jika Anda memiliki tujuan yang jelas.
  3. Berbagilah Tentang Tujuan Anda: Jika Anda adalah seorang pemanah, apakah Anda merahasiakannya bahwa tujuan Anda adalah untuk menghantam sebuah sasaran? Terlalu banyak orang yang menyimpan tujuan-tujuan mereka. Berbagilah dengan orang-orang yang akan mendukung dan mendorong tujuan Anda. Jangan berbagi dengan orang yang justru akan melemahkan tujuan Anda.
  4. Tuliskan Tujuan Anda: Buatlah tujuan Anda sebenarnya dengan mencatatnya. Taruh salinan dari tujuan Anda pada kartu-kartu indeks dan simpan salinan tersebut di dalam mobil dan di kamar mandi dan pemeriksa secara berkala. Tujuannya agar Anda fokus pada tujuan . Jangan hanya menetapkan mereka dan kemudian mengabaikan mereka. Tujuan Anda adalah seperti sebuah kompas untuk memberi tahu Anda ke mana harus pergi. Yang menarik adalah bahwa Anda bisa memilih arah dari kompas Anda.
  5. Jangan Menyerah: Tujuan Anda dan tindakan yang Anda ambil untuk mendapatkannya adalah hal yang berbeda. Jangan takut untuk mencoba sesuatu, jika gagal coba sesuatu yang lain. Ambikah tindakan yang efektif dan ambil tindakan besar untuk mewujudkan tujuan Anda dan pahami bahwa tujuan besar akan mengambil banyak langkah untuk mencapainya. Kadang-kadang Anda akan membuat kesalahan, tapi itu tidak berarti ada sesuatu yang salah dengan tujuan. Setiap orang membuat kesalahan, tapi hanya orang yang meninggalkan tujuanlah yang akan gagal total.
SHARE DARI HALAMAN MOTIVASI ISLAMI

RESOLUSI TAHUN BARU


Resolusi tahun baru adalah sebuah istilah yang sering digunakan sebagai bentuk komitmen yang dibuat oleh individu untuk membuat sebuah proyek, mengubah kebiasaan, mengubah gaya hidup, dan pencapaian-pencapaian baru lainnya yang menggunakan momen tahun baru. Sekali lagi, hanya menggunakan momen tahun baru. Sebenarnya perubahan atau resolusi tidak harus menunggu tahun baru, kapan saja sah-sah saja.
Banyak orang yang membuat resolusi tahun baru hanya tinggal tulisan atau tekad saja dalam hati. Begitu sampai di akhir tahun, tidak ada dampat positif yang berarti yang mereka dapat. Pada artikel ini, saya akan membahas bagaimana cara kita merancang sebuah resolusi tahun baru dengan kemungkinan keberhasilan yang tinggi. Silahkan disimak.
Kesalahan dalam Resolusi Tahun Baru
Banyak orang yang begitu semangat menulis resolusi tahun baru. Good, ini adalah langkah awal agar kita bisa mencapai resolusi tersebut. Menulis adalah sebuah kemajuan. Ini lebih baik dibandingkan orang yang tidak menulisnya. Tapi tidak cukup ditulis. Kebanyakan orang langsung akan berkata:
“Tapi harus diiringi tindakan!”
Ya betul, tindakan tentu saja harus dilakukan. Ini menu utama untuk meraih sukses. Yang menjadi pertanyaan: “Bagaimana agar tindakan tersebut benar-benar membawa hasil?”
Kesalahan-kesalahan dalam resolusi tahun baru:
  1. Tidak ditulis. Tulislah. Jika perlu, tulislah dan simpan di tempat yang mudah dilihat dalam kehidupan sehari-hari agar Anda ingat terus. Saat diri kita ingat akan resolusi maka pikiran kita akan fokus dan memberikan hasil yang terbaik.
  2. Tidak memilih target dengan baik. Bisa jadi, ada lintasan-lintasan pikiran akibat pengaruh media atau pembicaraan orang lain. Kemudian kita jadikan sebagai resolusi diri kita. Benarkah hal tersebut benar-benar keinginan kita? Pastikan target yang tentukan itu benar-benar datang dari dalam diri. Benar-benar yang Anda inginkan! Ini akan memberikan motivasi tinggi dan berarti dalam hidup Anda.
  3. Tidak jelas. Ini kesalahan klasik. Mungkin, orang yang sudah mengenal pengembangan diri sudah mengenal kesalahan ini. Pada kenyataanya masih banyak yang melakukan kesalahan. Metode paling populer dalam membuat tujuan ialah dengan menggunakan metode SMART. Silahkan Anda Membuat Tujuan dengan Metode SMART.
Macam-macam Resolusi Tahun Baru
Ada tiga jenis resolusi waktu yang biasa dibuat oleh banyak orang. Diantaranya adalah
  • Pencapaian. Anda ingin mendapatkan atau memiliki apa di tahun depan? Misalnya target tahun ini ingin memiliki sebuah mobil baru. Termasuk ingin menikah, menunaikan ibadah haji, pindah rumah, dan sebagainya.
  • Kebiasaan baru atau lepas dari kebiasaan lama. Tentu saja kebiasaan yang positif. Misalnya berhenti merokok, rajin olah raga, tidak makan sesuatu yang merusak kesehatan, dan sebagainya.
  • Melakukan tindakan tertentu. Berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan secara rutin, yang dimaksud disini ialah tindakan sekali atau hanya beberapa kali. Misalnya ingin keliling Indonesia, ingin mengunjungi tempat tertentu, dan sebagainya.
Mana yang terbaik? Silahkan pilih yang sesuai dengan keinginan Anda. Semuanya juga boleh, bahkan lebih baik.
Kemudian, bidang-bidang resolusi yang populer meliputi:
  • kesehatan: lebih bugar, berhenti merokok, menurunkan berat badan, dan sebagainya.
  • finansial: bebas utang, penghasilan lebih tinggi, tabungan lebih banyak, investasi lebih banyak, dan sebagainya
  • karir: naik jabatan, mendapatkan pekerjaan (bagi yang belum), naik gaji, dan sebagainya
  • pendidikan: meraih gelas, kuliah, mengikuti kursus tertentu, mendapatkan sertifikat tertentu, dan sebagainya
  • kualitas diri: lebih terorganisasi, lebih semangat, keterampilan baru, ilmu baru, pengelaman baru, dan sebagainya
  • relasi: lebih banyak teman, lebih banyak jaringan bisnis, mendapatkan pasangan, dan sebagainya
  • dakwah: menambah objek dakwah, melakukan proyek dakwah, lebih banyak memberikan ceramah, dan sebagainya
Strategi Mencapai Resolusi Tahun Baru Anda
  1. Tuliskan daftar resolusi tahun baru Anda. Pastikan, itu yang benar-benar Anda inginkan. Tuliskan dengan menggunakan metode SMART.
  2. Tuliskan apa saja yang Anda perlukan untuk mencapai resolusi tersebut. Aset apa saja yang diperlukan? Mulai aset fisik seperti uang, alat, tempat, dan sebagainya. Tuliskan juga aset non fisik yang diperlukan seperti keahlian, keterampilan, ilmu, pengalaman, dan sebagainya.
  3. Tuliskan rencana Anda mendapatkan semua yang Anda butuhkan. Bukan rencana seperti diperusahaan yang rumit. Cukup tuliskan ide-ide apa saja yang akan dilakukan untuk mendapatkan apa yang Anda butuhkan. Jika Anda punya kelompok MasterMind, ini akan lebih baik. Adakan pertemuan MasterMind untuk membahas resolusi masing-masing. Jika tidak punya, Anda bisa bertanya kepada mentor, teman, orang tua, atasan, atau siapa pun yang bisa membantu Anda. Anda anda bisa belajar, membaca buku, mengikuti seminar, dan sebagainya.
  4. Tuliskan daftar orang-orang yang bisa membantu Anda. Cari tahu bagaimana Anda bisa mengontak mereka.
  5. Bertindaklah untuk mewujudkan resolusi Anda. Mulai hari pertama sampai akhir tahun, setiap hari.
  6. Jangan lupa, berdo’a dan bertawakal kepada Allah.
  7. Bershabarlah dalam menjalani perjuangan mencapai resolusi Anda.
Inilah 7 strategi yang akan meningkatkan peluang sukses Anda mencapai resolusi tahun baru.
Rujukan Berkaitan dengan Resolusi Tahun Baru
Sebelumnya saya sudah banyak menulis artikel yang akan mendukung tercapainya resolusi tahun baru Anda. Artikel-artikel tersebut adalah:
  • Mulailah Bertindak Dari Yang Sudah Ada
  • Mengapa Harus Membuat Tujuan Pribadi?
  • Membuat Tujuan dengan Metode SMART
  • Memperkuat Keyakinan Anda Untuk Meraih Tujuan
  • 5 Strategi Mewujudkan Tujuan Anda
  • Tips Sukses Harian
  • Memulai Perubahan
  • Biarkan Allah Membantu
  • Meraih Sukses dengan Cepat
  • Jembatan Menuju Impian
  • Anda Bisa Sukses
  • Dan, tentu saja artikel-artikel lainnya pun akan membantu Anda meraih resolusi tahun baru Anda.
Semoga kita sukses meraih resolusi tahun baru kali ini.
SHARE DARI HALAMAN MOTIVASI ISLAMI

Minggu, 05 Desember 2010

PANDUAN SHOLAT ISTIKHARAH


Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan do’a supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.
Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah Ta’ala. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (68) وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (69) وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآَخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (70)
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Qashash: 68-70)
Al ‘Allamah Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.”[1]
Yang dimaksud istikhoroh adalah memohon kepada Allah manakah yang terbaik dari urusan yang mesti dipilih salah satunya.[2]
Dalil Disyariatkannya Shalat Istikhoroh
Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ - ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ - خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ - قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى - فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى - أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”
Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”[3]
Faedah Mengenai Shalat Istikhoroh
Pertama: Hukum shalat istikhoroh adalah sunnah dan bukan wajib. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu”
Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi seseorang, lalu ia bertanya mengenai Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat lima waktu sehari semalam.” Lalu ia tanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ « لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ »
“Apakah aku memiliki kewajiban shalat lainnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallampun menjawab, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin menambah dengan shalat sunnah.”[4]
Kedua: Dari hadits di atas, shalat istikhoroh boleh dilakukan setelah shalat tahiyatul masjid, setelah shalat rawatib, setelah shalat tahajud, setelah shalat Dhuha dan shalat lainnya.[5]
Bahkan jika shalat istikhoroh dilakukan dengan niat shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu berdoa istikhoroh setelah itu, maka itu juga dibolehkan. Artinya di sini, dia mengerjakan shalat rawatib satu niat dengan shalat istikhoroh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu.” Di sini cuma dikatakan, yang penting lakukan shalat dua raka’at apa saja selain shalat wajib. [6]
Al ‘Iroqi mengatakan, “Jika ia bertekad melakukan suatu perkara sebelum ia menunaikan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu ia shalat tanpa niat shalat istikhoroh, lalu setelah shalat dua rakaat tersebut ia membaca doa istikhoroh, maka ini juga dibolehkan.”[7]
Ketiga: Istikhoroh hanya dilakukan untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh), bukan pada perkara yang wajib dan sunnah, begitu pula bukan pada perkara makruh dan haram. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan.”
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Jamroh bahwa yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah khusus walaupun lafazhnya umum.[8] Ibnu Hajar Al Asqolanirahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.”[9]
Contohnya, seseorang tidak perlu istikhoroh untuk melaksanakan shalat Zhuhur, shalat rawatib, puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, atau mungkin dia istikhoroh untuk minum sambil berdiri ataukah tidak, atau mungkin ia ingin istikhoroh untuk mencuri. Semua contoh ini tidak perlu lewat jalan istikhoroh.
Begitu pula tidak perlu istikhoroh dalam perkara apakah dia harus menikah ataukah tidak. Karena asal menikah itu diperintahkan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. An Nur: 32)
Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ
“Wahai para pemuda, jika salah seorang di antara kalian telah mampu untuk memberi nafkah, maka menikahlah.”[10]
Namun dalam urusan memilih pasangan dan kapan tanggal nikah, maka ini bisa dilakukan dengan istikhoroh.
Sedangkan dalam perkara sunnah yang bertabrakan dalam satu waktu, maka boleh dilakukan istikhoroh. Misalnya seseorang ingin melakukan umroh yang sunnah, sedangkan ketika itu ia harus mengajarkan ilmu di negerinya. Maka pada saat ini, ia boleh istikhoroh.
Bahkan ada keterangan lain bahwa perkara wajib yang masih longgar waktu untuk menunaikannya, maka ini juga bisa dilakukan istikhoroh. Semacam jika seseorang ingin menunaikan haji dan hendak memilih di tahun manakah ia harus menunaikannya. Ini jika kita memilih pendapat bahwa menunaikan haji adalah wajib tarokhi (perkara wajib yang boleh diakhirkan).[11]
Keempat: Istikhoroh boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikhoroh pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikhoroh adalah do’a dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikhorohnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,
إِنِّى مُسْتَخِيرٌ رَبِّى ثَلاَثًا ثُمَّ عَازِمٌ عَلَى أَمْرِى
“Aku melakukan istikhoroh pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.”[12]
Kelima: Do’a shalat istikhoroh yang lebih tepat dibaca setelah shalat dan bukan di dalam shalat. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ ...
“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika ...”[13]
Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui dalil yang shahih yang menyatakan bahwa do’a istikhoroh dibaca ketika sujud atau setelah tasyahud (sebelum salam) kecuali landasannya adalah dalil yang sifatnya umum yang menyatakan bahwa ketika sujud dan tasyahud akhir adalah tempat terbaik untuk berdo’a. Akan tetapi, hadits ini sudah cukup sebagai dalil tegas bahwa do’a istikhoroh adalah setelah shalat. ”[14]
Keenam: Istikhoroh dilakukan bukan dalam kondisi ragu-ragu dalam satu perkara karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
““Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu”. Begitu pula isi do’a istikhoroh menunjukkan seperti ini. Oleh karena itu, jika ada beberapa pilihan, hendaklah dipilih, lalu lakukanlah istikhoroh. Setelah istikhoroh, lakukanlah sesuai yang dipilih tadi. Jika memang pilihan itu baik, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka nanti akan dipersulit.[15]
Ketujuh: Sebagian ulama menganjurkan ketika raka’at pertama setelah Al Fatihah membaca surat Al Kafirun dan di rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas. Sebenarnya hal semacam ini tidak ada landasannya. Jadi terserah membaca surat apa saja ketika itu, itu diperbolehkan.[16]
Kedelepan: Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-0rang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan.[17] Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati.[18] Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.
Tata Cara Istikhoroh
*Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.
*Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua raka’at (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).
*Ketiga: Setelah shalat dua raka’at, lalu berdo’a dengan do’a istikhoroh:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ - ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ - خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ - قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى - فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى - أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ
Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.
[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]
*Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan ia dari pilihan tersebut.
Demikian penjelasan kami mengenai panduan shalat istikhoroh. Semoga bermanfaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Diselesaikan di Pangukan-Sleman, di sore hari menjelang Maghrib, 15 Rabi’ul Awwal 1431 H (01/03/2010)
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
================
1] Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (Tafsir Al Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqi’ Ya’sub (sesuai cetakan).
[2] Lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/184, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.
[3] HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah
[4] HR. Bukhari no. 2678 dan Muslim no. 11, dari Tholhah bin ‘Ubaidillah.
[5] Lihat Fiqhud Du’aa, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.
[6] Faedah dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/426, Al Maktabah At Taufiqiyah. Begitu pula terdapat penjelasan yang sama dari Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitab beliau Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’ (soft file).
[7] Lihat Nailul Author, Asy Syaukani, 3/87, Irodatuth Thob’ah Al Muniroh.
[8] Lihat Fathul Baari, 11/184.
[9] Idem
[10] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.
[11] Contoh-contoh ini kami peroleh dari Fiqhud Du’aa, hal. 167-168.
[12] HR. Muslim no. 1333
[13] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 168-169.
[14] Fiqhud Du’aa, hal. 169.
[15] Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).
[16] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 169.
[17] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/427.
[18] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).